Ramadhan: Bulan Suci dan Anugerah
Sebagaimana telah menjadi pemahaman semua orang bahwa anak yang dilahirkan itu berada dalam keadaan fitrah (suci), belum punya dosa atau noda hitam setitik pun, putih bersih ibarat secarik kertas yang belum ada tulisan sama sekali. Orang tua dan lingkunganlah yang akan menjadikan anak itu berperilaku seperti apa, baik-buruk, benar-salah, positif-negatif dan seterusnya tergantung keluarga dan lingkungan masyarakatnya.
Tetapi pemahaman fitrah tidak hanya diartikan dengan suci dari noda atau dosa, fitrah juga memiliki makna suci dari kemusyrikan, suci dari sifat menyekutukan Tuhan dan dalam berbagai macam bentuk kemaksiatan. Fitrah ketuhanan, fitrah ilahiyah, fitrah ketauhidan inilah yang dimiliki oleh semua anak adam. Tidak hanya anak yang dilahirkan dari orang Islam saja, tetapi semua anak yang lahir di dunia ini pada hakekatnya berada pada fitrah tersebut. Pada tahap selanjutnya, keluarga dan masyarakatnyalah yang akan ikut membentuk anak tersebut, mau jadi apa dan mau seperti apa keyakinan dan perilakunya.
Pada perkembangannya, kita bisa melihat atau menyaksikan bagaimana kepribadian dan keyakinan seseorang itu, apa agama dan keyakinannya, dan seterusnya. Ada yang berperilaku yang menunjukkan ketaatan pada Tuhannya atau durhaka pada Tuhannya, perilaku kebaikan atau kejahatan (kemaksiatan), dan seterusnya dengan seabrek macam-macamnya. Hidup manusia ada yang dipenuhi dengan ketaatan-kebaikan yang berpengaruh pada hidupnya yang bahagia atau kemaksiatan-kejelekan yang berimbas pada hidupnya yang jauh dari kebahagiaan atau bahagia tetapi kebahagiaan yang semu (palsu). Bagi seseorang yang baik, maka dia bisa terus meningkatkan kebaikannya; tetapi bagi seseorang yang penuh dengan dosa dan kemasiatan, maka puasa Ramadhan merupakan ibadah wajib yang bisa menghapuskan semua dosa-dosa manusia. Jika dosa-kemaksiatan mereka telah diampuni Tuhan, Allah, maka mereka akan kembali suci lagi seperti baru dilahirkan dari rahim ibunya, tidak punya dosa setitik pun, dan kembali pada fitrah ketuhanan/ketauhidan yang benar.
Memang, manusia dalam hidup dan kehidupannya, tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari dua sisi, kebaikan dan keburukan, positif dan negatif. Hal-hal ini merupakan potensi yang ada pada diri manusia itu sendiri, karena manusia memiliki hati dan nafsu. Dalam perjalanan hidupnya, manusia selalu berada pada dua kondisi tersebut. Ketika manusia berada pada posisi yang positif nan penuh dengan kebaikan, maka dia berarti dapat menunjukkan potensi positif yang merupakan manifestasi dari hati. Sebaliknya, jika manusia berada pada posisi negatif nan buruk, maka dia sedang dalam kondisi yang dikuasai oleh nafsu (hawa nafsu).
Puasa merupakan wahana bagi manusia (umat Islam) untuk menuntun dan menunjukkan hal-hal positif, potensi-potensi positif yang dimiliki manusia agar dia bisa memaksimalkan hal-hal tersebut. Di sisi lain, puasa juga merupakan wahana untuk mengekang dan meninggalkan hal-hal yang negatif (keburukan) yang ada pada diri manusia, sehingga dengan puasa, manusia (umat Islam) akan semakin menjadi manusia yang lebih baik.
Positif-kebaikan yang ada pada diri manusia yang bisa dimaksimalkan akan menjadikan dirinya sebagai hamba Allah yang sangat disayangi-Nya dan akan menjadikan dirinya sebagai makhluk yang memiliki derajat melebihi malaikat. Negatif-keburukan yang ada pada diri manusia yang tidak bisa dikekang alan menjadikan manusia terjerumus dan terjatuh pada jurang kegelapan, jurang kesesatan yang jauh lebih berbahaya dibanding dengan apa yang dilakukan setan. Oleh karena itu, puasa merupakan anugerah Allah kepada hamba-Nya sebagai wahana untuk membersihkan dosa-dosa dan kemaksiatan yang telah dilakukannya.
Tulungagung, 09 April 2023

Posting Komentar untuk "Ramadhan: Bulan Suci dan Anugerah"