Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Antara Suka Cita dan Ujian

Dalam menyambut bulan suci Ramadhan, di antara kita mungkin memiliki rasa atau perasaan yang berbeda-beda. Hal ini mungkin juga akan berdampak pada tahap pelaksanaan perintah yang ada di bulan suci itu, yaitu puasa wajib dan ibadah-ibadah lainnya yang ada di bulan tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain: dengan menanyakan pada diri sendiri bagaimana rasa dan perasaan kita ketika bulan Ramadhan ini datang, suka-senang, berbunga-bunga ataukah tidak mau tahu-benci, biasa-biasa saja; rasa dan perasaan ini mungkin yang nanti akan menjadi dasar dari segala aktifitas yang ada di bulan Ramadhan, yang sedikit banyak memengaruhi perilaku kita.

Kita juga bisa membandingkan rasa dan perasaan yang ada dalam diri kita ini dengan bulan Ramadhan pada tahun sebelumnya, bagaimana rasa dan perasaan ini, apakah lebih baik dari tahun yang lalu atau sama saja atau lebih kurang baik dari tahun yang lalu. Atau dengan membandingkannya dengan bulan-bulan lain di luar bulan Ramadhan. Hal ini mungkin juga akan membawa rasa dan perasaan kita itu pada keadaan di bulan Ramadhan tahun ini.

Layaknya seseorang yang hadir dalam diri kita, bagaimana rasa dan perasaan kita atas kehadiran seseorang itu, negatif atau positif. Hal ini tidak lain karena ada sebuah dalil yang ketika seseorang menyambut bulan suci Ramadhan ini dengan penuh suka cita, dan mengharap ridha Allah maka dia akan dijauhkan dari api neraka. Tentu dilanjutkan dengan perilaku yang menunjukkan dan membuktikan suka citanya pada perintah-perintah Allah Swt.

Selanjutnya, sebagaimana dalam pemahaman yang terdapat dalam berbagai ajaran Islam dan dalam hidup dan kehidupan manusia, bahwa bulan Ramadhan pun juga termasuk ujian. Bulan Ramadhan merupakan bulan ujian bagi umat Islam. Seberapa besar dan mendalam keimanan-ketaqwaan seseorang kepada Allah juga bisa dibuktikan dengan ibadah puasa. Ibarat dalam sebuah proses pembelajaran; jika seseorang lulus dari ujian semester, ujian akhir nasional, ujian masuk perguruan tinggi, ujian skripsi, ujian masuk untuk menjadi pegawai, dan ujian-ujian lainnya, itu merupakan ujian formal dan bisa dikategorikan sederhana, meski juga sulit. Tetapi ujian dalam kaitannya dengan puasa Ramadhan itu jauh lebih sulit dan berat. Ujian puasa ini jauh lebih berat dibanding dengan ibadah-ibadah lainnya (paling tidak jika dibandingkan dengan shalat, zakat).

Jika dalam menjalankan puasa, seseorang bisa menahan lapar, dahaga, nafsu seksual, dan hal-hal yang membatalkan puasa; maka seseorang itu sudah bisa dikatakan lulus, tetapi baru dikatakan lulus secara formalitas. Hal ini tidak lain karena ada hal-hal yang lebih penting daripada sekadar menahan lapar, dahaga dan hal-hal yang membatalkan puasa. Jika dalam shalat, seseorang harus bisa khusyu', minimal 3 menit ketika dia shalat, itu beratnya luar biasa; apalagi ibadah puasa yang di dalamnya kita juga harus bisa khusyu' dengan rentang waktu yang jauh lebih panjang dan lama, yaitu sekitar 13 jam. Bagaimana seseorang yang puasa itu bisa menjaga perilaku negatif-maksiat, menjaga mata, lidah/mulut, telinga, tangan, kaki dari hal-hal yang negatif dan maksiat, termasuk menjaga hati. Tentu saja sangat-sangat sulit dan berat untuk memenuhi kekhusyu'an dalam puasa Ramadhan itu. Meski demikian, kewajiban seorang hamba adalah ikhtiar, berusaha terus menerus tanpa mengenal putus asa, sehingga kualitas puasanya mengalami peningkatan.

Pasuruan, 05 April 2023

4 komentar untuk "Antara Suka Cita dan Ujian"