Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kesabaran dan Kesadaran

Alhamdulillah pada tahun ini semua umat Islam bisa merayakan Idul Fitri dengan penuh suka cita seperti sebelum adanya pandemi. Idul Fitri 1 Syawal 1443 H yang pada tahun ini bertepatan dengan tanggal 2 Mei 2022 memang sudah ada kelonggaran, tetapi tetap mengedepankan protokol kesehatan. Mulai dari mudik, shalat Idul Fitri sampai silaturrahim (lebaran) maupun aktivitas-aktivitas lainnya saat Ramadhan maupun pasca Ramadhan, termasuk pelaksanaan shalat tarawih.

Suka cita saat Idul Fitri ini juga kami rasakan, meski baru bisa mudik pada hari kedua, karena hari pertama masih harus melaksanakan tugas dalam rangkaian shalat Idul Fitri di Tulungagung, tepatnya di masjid Abdurrahman Desa Bendiljati Kulon Kecamatan Sumbergempol. Kami mudik pada hari kedua setelah shalat subuh, tentu hal ini dilakukan agar terhindar dari kemacetan. Perjalanan dari rumah sampai masuk Kota Kediri masih sangat lengang, tetapi mulai Kota Kediri hingga Kertosono perjalanan agak merayap, padahal biasanya tidak seperti itu.

Berbeda dengan mudik, saat balik ke Tulungagung pada siang hari, pada hari ketiga, kita sudah menyiapkan mental untuk siap macet dalam perjalanan balik di banyak titik, sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya saat belum ada pandemi. Kesiapan ini tentu sangat dibutuhkan dan harus disiapkan sejak awal, sehingga ketika sampai pada titik-titik lokasi yang rawan macet tidak ada kerisauan maupun keputus-asaan dan menjalaninya dengan penuh kesabaran.

Dalam perjalanan balik ke Tulungagung, ternyata tidak sedikit pengendara yang belum sabar; jika dalam kondisi kendaraan sedang berjalan maka mendahului kendaraan lainnya menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari dan sah-sah saja. Tetapi ketika pada titik-titik lokasi yang macet, baik karena padatnya arus lalu lintas maupun karena rambu-rambu lalu lintas, maka mendahului kendaraan lainnya adalah sesuatu yang kurang baik. Dalam kondisi seperti yang terakhir ini, semestinya pengendara satu dengan lainnya harus bersabar, antri dengan baik di belakang kendaraan lainnya sesuai dengan yang seharusnya. Tentu dalam hal ini karena pengendara satu dengan lainnya sama-sama memiliki hak yang sama.

Alhamdulillah perjalanan balik ke Tulungagung diberikan kelancaran. Rute balik dimulai dari silaturrahim ke rumah keluarga yang ada di Desa Ngujung dan Senjayan Kecamatan Gondang Kabupaten Nganjuk, lanjut ke Prambon diberikan kelancaran. Sampai di lampu merah Mrican agak panjang antrian kendaraan roda empat, meski belum seperti sebagaimana tahun-tahun sebelum pandemi yang biasanya lebih panjang dan lebih lama lagi. Setelah melewati lampu merah ini kita lanjut ke rute yang direncanakan yaitu lewat jalur barat, Ploso. Sebelum sampai di Ploso, kita sempat dengar informasi dari Radio Andika bahwa jembatan perbatasan Kediri-Tulungagung macet panjang dan kendaraan baru bisa lewati jembatan sekitar 40 menit kemudian. Akhirnya kita belok kiri menuju jembatan baru Ngadiluwih, arah perempatan lampu merah Branggahan Ngadiluwih Kediri. Dari sini kita lanjut perjalanan menuju Tulungagung via jalan raya utama, dan Alhamdulillah lancar-lancar saja dan tidak menemui kendala yang berarti, termasuk tidak menemui kemacetan yang panjang.

Menjadi pengendara yang baik atau pengguna jalan yang baik tentu sangat dibutuhkan dalam kondisi apa pun, baik saat mudik, arus balik maupun di hari-hari normal lainnya, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi. Tentu dalam hal ini selain kesabaran juga dibutuhkan kesadaran. Ya...semua pengguna jalan harus memiliki kesadaran yang sebenarnya bahwa jalan itu bukan milik pribadi, sehingga perlu saling menghargai pengguna jalan lainnya, tidak perlu nerombol dan lain sebagainya. Bahkan ketika kita bisa memberikan kesempatan pada pengendara lainnya untuk lewat duluan karena akan belok maupun lainnya mungkin merupakan perbuatan yang baik, agar bisa mengurai kemacetan maupun lainnya. Lebih dari itu, menaati peraturan atau rambu-rambu lalulintas, seperti tidak menerobos lampu merah dan sebagainya juga menjadi bagian penting bagi siapa pun yang berkendara agar selamat dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, sekaligus tidak menyebabkan pengendara lain celaka.

Oleh karena itu siapa pun kita jika ingin menjadi pengendara yang baik, selain menggunakan atribut yang lengkap, tentu juga harus memiliki kesabaran dan kesadaran. Termasuk ketika hendak berangkat berdoa terlebih dahulu, dalam perjalanan senantiasa berdzikir, membaca shalawat, memohon kepada Allah agar diberikan keselamatan dari berangkat hingga pulang kembali ke rumah.

Tulungagung, 05 Mei 2022

Posting Komentar untuk "Kesabaran dan Kesadaran"