Lailatul Qadar dan Maleman
Bulan Ramadhan disebut dengan bulan yang mulia dan dimuliakan, di antara salah satunya adalah karena di dalam bulan ini terdapat lailatul qadar. Sebagaimana yang kita pahami bersama bahwa lailatul qadar adalah malam yang terbaik dan lebih baik dari seribu bulan, dan hal ini sudah diabadikan dalam al-Qur'an surat al-Qadr. Dalam hal ini seperti apa dan bagaimana lailatul qadar itu, mungkin tidak ada yang tahu, selain Allah dan Rasul-Nya. Berbagai penafsiran atas ayat tersebut (lailatul qadar) telah dilakukan oleh para ulama, akan tetapi yang sebenarnya bagaimana lailatul qadar itu mungkin tidak ada yang tahu, dan meskipun dalam hadis-hadis Nabi juga telah dideskripsikan tentang lailatul qadar, tetapi yang sejatinya hanya Allah Yang Maha Tahu.
Dalam pemahaman kita, jika ada seseorang yang mendapatkan lailatul qadar maka berarti dia telah mendapatkan keberkahan atau kemuliaan yang luar biasa. Bagaimana dan seperti apa orang yang telah mendapatkan lailatul qadar itu, mungkin lagi-lagi kita juga belum tahu. Atau paling tidak secara sederhana, kita belum pernah mendengar atau tahu bahwa ada seseorang yang telah mendapatkan lailatul qadar, sehingga bisa dijelaskan bagaimana dan seperti apa orang tersebut.
Terlepas dari pemahaman kita tentang lailatul qadar yang mungkin berbeda-beda, dan terlepas dari apa dan bagaimana lailatul qadar itu, satu hal yang ada baiknya kita kedepankan adalah bahwa lailatul qadar itu merupakan rahasia Allah, sehingga bagi kita sebagai orang Islam tentu menyakini adanya. Upaya-upaya untuk mendapatkannya mungkin tidak hanya dilakukan pada saat sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, dan bukan juga selama bulan Ramadhan, akan tetapi mungkin upaya-upaya itu juga dilakukan di luar bulan Ramadhan, selama hidup manusia, sehingga kebaikan-kebaikan (ibadah maupun sosial) bisa selalu berusaha diwujudkan dalam hidup dan kehidupan ini. Sebuah proses dan upaya yang tiada henti dan tiada berakhir.
Secara khusus, pada sepuluh hari yang terakhir kita diharapkan bisa semakin meningkatkan ibadah di bulan Ramadhan ini, karena di sepuluh hari ini ada kemungkinan lailatul qadar itu diturunkan. Secara lebih khusus yaitu pada malam-malam ganjil di sepuluh hari yang terakhir (malam 21, 23, 25, 27, dan 29). Apakah lailatul qadar akan turun pada malam-malam ganjil itu? Itu adalah rahasia Allah.
Dalam upaya meningkatkan amal ibadah dan kebaikan ini, di masyarakat kita sudah ada kebiasaan yang baik, sudah berabad-abad dan sampai hari ini masih tetap terjaga. Kebiasaan itu adalah selamatan yang digelar pada malam hari setelah shalat tarawih. Dalam istilah masyarakat kita, Jawa, selamatan ini disebut dengan maleman. Terlepas dari apa, kenapa dan mengapa selamatan itu disebut maleman, yang jelas kita bisa menyaksikan dan melakukan selametan maleman ini di hampir semua masjid dan mushala. Dalam selamaten maleman ini, masyarakat kita mengharapkan agar mendapatkan kebaikan dengan sedekah atau selametan maleman itu dan lebih-lebih bisa mendapatkan lailatul qadar, karena maleman ini dilaksanakan pada malam-malam ganjil di sepuluh hari yang terakhir pada bulan Ramadhan.
Terlepas juga dari niat masyarakat kita dalam melakukan selametan maleman, yang jelas sebenarnya masyarakat kita telah diberikan pembelajaran tentang bersedekah. Masyarakat kita perlu dan mungkin harus memiliki kepedulian sosial, berbagi dengan sesama, sehingga bersedekah itu tidak hanya dilakukan pada bulan Ramadhan saja, tetapi di luar bulan Ramadhan mereka juga sebaiknya melakukannya, kepedulian sosial itu harus selalu melekat dalam diri mereka dan kita semua. Meski tentu saja hal ini boleh jadi tidak mudah, tidak mudah untuk membiasakan diri dalam kepedulian sosial. Tetapi ingatlah bahwa apa pun dan seberapa pun yang kita keluarkan untuk kepedulian sosial itu tidak akan percuma, Allah SWT yang akan membalasnya dengan balasan yang lebih banyak.
Tulungagung, 14 April 2023

Posting Komentar untuk "Lailatul Qadar dan Maleman"