Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ampunan dan Itqun Min An-Nar

Sebagaimana tersebut dalam hadis Nabi Muhammad saw. dan menjadi pemahaman umat Islam bahwa sepuluh hari pertama di bulan Ramadhan merupakan rahmah, sepuluh hari kedua merupakan hari-hari yang penuh dengan ampunan (maghfirah), dan sepuluh hari yang ketiga merupakan itqun min an-nar. Karena itu moment ini tentu memiliki nilai tersendiri bagi umat Islam.

Sebagaimana catatan-catatan saya sebelumnya, bahwa manusia tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari hal-hal yang positif maupun negatif, hal-hal yang baik dan buruk, dan karena hal inilah maka dia disebut sebagai manusia. Khusus dalam hal-hal yang negatif (buruk), ketika manusia melakukan dan terjerumus pada hal-hal yang negatif itu, apalagi jika keburukannya sampai bertumpuk-tumpuk, Tuhan sebenarnya tidak akan pernah meninggalkannya, bahkan sebenarnya manusialah yang telah meninggalkan Tuhannya. Kasih sayang Tuhan itu tidak ada batasnya, seberapa banyak manusia telah berbuat maksiat, Tuhan tetap membuka pintu maaf (maghfirah), karena Tuhan Maha Pengampun dan Penyayang. Jika dosa-dosa yang telah dilakukan manusia itu berhubungan dengan sesama manusia, dia harus meminta maaf terlebih dahulu kepada sesamanya, lalu mohon ampun dan taubat kepada Tuhannya.

Memohon ampun kepada Allah atas semua kesalahan, dosa dan kemaksiatan yang telah dilakukan manusia itu bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, dan sebaiknya memang sesegera mungkin dilakukan. Meski demikian, Tuhan juga telah memberikan hari-hari atau bulan-bulan tertentu sebagai waktu-waktu yang utama (afdhal) bagi hambaNya yang telah berbuat maksiat. Salah satu bulan itu adalah bulan Ramadhan, dan secara khusus lagi di sepuluh hari yang kedua di bulan ini. Karena itu marilah kita sesegera mungkin memohon ampun kepada Allah atas segala kemaksiatan yang telah kita lakukan.

Kini, kita telah memasuki 10 hari yang terakhir dari bulan Ramadhan ini, sepuluh hari yang disebut sebagai itqun min an-nar. Fase terakhir dari Ramadhan ini tidak bisa dilepaskan dari dua fase sebelumnya, yaitu rahmah dan maghfirah. Dalam pemahaman ini, mungkin hanya orang-orang yang bisa melewati atau lulus pada tahap pertama dan kedualah yang mendapatkan tahap ketiga; orang-orang yang mendapatkan rahmah dan maghfirahlah yang akan mendapatkan itqun min an-nar, yang akan dibebaskan atau dijauhkan dari api nereka. Meskipun siapa saja yang lulus dan siapa saja yang dibebaskan dari api neraka memang tidak ada yang tahu, selain Dia, Allah SWT.

Jika kita termasuk orang-orang yang lulus ditahap pertama dan kedua, maka kita juga harus tetap berusaha semaksimal mungkin untuk bisa lulus di tahap terakhir ini. Konsentrasi dan keseriusan pada tahap ketiga ini tentu tetap menjadi prioritas dan mungkin juga menjadi unsur penilaian atas kelulusan seseorang pada tahap ketiga ini. Lulus pada tahap pertama dan kedua mungkin belum cukup (belum jaminan) untuk menjadikan seseorang lulus pada tahap ketiga. Apalagi tahap yang ketiga dan terakhir ini merupakan tahap yang menentukan, dan mungkin juga lebih besar cobaannya.

Oleh karena itu, tetap dalam niat, langkah dan sikap yang benar, yang sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Kuantitas dan kualitas aktivitas dalam kebaikan ada baiknya juga semakin ditingkatkan, demikian juga dalam hal ibadah, baik wajib maupun sunnah. Mungkin hanya orang-orang mukmin sejatilah yang akan bisa bertahan dan lulus dalam tahap terakhir ini. Orang-orang yang berpuasa dengan ikhlas penuh iman dan hanya mengharap keridhaan Allah SWT.

Tulungagung, 17 April 2023

Posting Komentar untuk "Ampunan dan Itqun Min An-Nar"