Ramadhan: Menjamu Tamu Agung
Marhaban ya Ramadhan. Mengawali catatan pada hari ini, saya mengucapkan: "Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan, semoga Allah menerima puasa dan amal ibadah kita serta melipatgandakan semua kebaikan, dan mengampuni semua dosa-kesalahan kita, amiin".
Ibarat tamu, Ramadhan adalah tamu agung, tamu yang spesial, tamu yang sangat diharapkan oleh semua umat Islam, tamu yang tidak sekedar tamu yang tidak membawa apa-apa, tetapi Ramadhan adalah tamu yang membawa sekian banyak 'oleh-oleh', sekian banyak kebaikan, keberkahan, tamu yang akan memberikan banyak hal yang berlipatganda, dan tamu yang akan bisa menghapuskan semua dosa-kesalahan manusia (umat Islam), dan seterusnya.
Tetapi, benarkah demikian adanya? Mungkin di antara kita ada yang percaya dan ada yang tidak, ada yang serius menyambutnya dan ada yang tidak menghiraukannya, dan seterusnya. Bagi yang tidak menghiraukan, maka ada Ramadhan atau tidak, sama saja. Ada tamu yang datang atau tidak, tidak berefek pada hidup dan kehidupannya. Sehingga bagi orang-orang yang seperti ini tentu memiliki sikap yang apatis, dan mungkin juga ada sementara orang yang malah 'mengusirnya'.
Sebaliknya, bagi orang-orang yang menyambutnya dengan suka cita, penuh kegembiraan dan pengharapan atas keberkahan, mereka telah menyiapkan semua hal yang dibutuhkan untuk menyambut tamu agung (Ramadhan) tersebut. Mereka memperlakukan tamu agung itu dengan sangat baik, menghormatinya dan menjamunya dengan amal kebaikan dan amal ibadah yang berlebih. Karena mereka semua tahu bahwa mereka akan mendapatkan yang berlebih juga dan berlipatganda. Dan sudah mulai beberapa hari kemarin tamu itu telah datang ke 'rumah' kita, dan selama sebulan dia menginap, karena itu jangan sampai kita tidak menjamunya dengan baik, apalagi mengabaikannya.
Selayaknya tamu, adakah kita sudah menjamunya dengan 'jamuan-jamuan' yang seharusnya? Atau adakah kita telah menjamunya dengan jamuan yang lebih dari sekedar seharusnya? Jika ada seseorang bertamu ke rumah kita, tentu kita akan gupuh, suguh, dan aruh. Kita akan sedikit bingung dengan kedatangannya, hidangan apa yang mau disuguhkan, dan bagaimana cara yang baik menyapanya agar jangan sampai mengecewakannya. Bila tamu itu orang biasa, maka mungkin kita tidak terlalu menghiraukan atau tidak terlalu sibuk. Akan tetapi jika tamu itu seorang pejabat, kiai atau ulama, tentu kesibukan yang disiapkan luar biasa. Jauh sebelumnya telah dipersiapkan agar bisa berhasil dan sukses.
Lalu, bagaimana dengan tamu agung Ramadhan ini? Bagaimana persiapan yang telah kita lakukab untuk menyambut 'Tamu' Allah ini? Sudahkah kita menyiapkannya? Tentu persiapan yang kita lakukan berbeda dengan persiapan untuk menyambut tamu orang biasa maupun orang khusus. Karena Ramadhan adalah 'tamu' Allah, maka kita sebagai umat Islam harus menyiapkan dengan jamuan-jamuan yang lebih dari sekedar jamuan.
Jamuan-jamuan yang bisa dipersiapkan dan diberikan pada 'tamu' Allah itu di antaranya adalah beribadah wajib maupun sunnah, ibadah yang wajib ditingkatkan dan ibadah yang sunnah diperbanyak; tadarus/mengaji al-Qur'an, shalat tarawih, shalat malam (tahajud dan sebagainya), berbagi dengan sesama (bersedekah dan lain sebagainya), berbuat baik, meminimalisir dan meninggalkan keburukan, dan lain sebagainya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Semoga kita bisa benar-benar menjamu tamu agung itu, aaamiin.
Minggu, 26 Maret 2023

Posting Komentar untuk "Ramadhan: Menjamu Tamu Agung"